Saat Bitcoin Jatuh di Bawah $60K—Apa yang Kau Lakukan?

Keheningan Setelah Jatuh
Pukul 02.17, harga BTC turun ke bawah $60K—batas psikologis di mana trader panik menjual. Aku tak bergerak. Ibu ku selalu berkata, “Pasar tak naik karena kau lari darinya”—bukan dari buku catatan, tapi dari jarum akupunktur. Di menara blockchain ini, aku sendirian.
Beban Sebuah Desimal
Setiap detak membawa lebih dari data—ia membawa kenangan. Saat BTC naik ke $60K lalu jatuh lagi, bukan volatilitas—tapi irama. Detak jantung di likuiditas dan kesepian. Kusambangi sepuluh ribu transaksi dalam satu jam—bukan karena cerdas, tapi karena takut.
Algoritma yang Kita Lupa
Ayahku membangun AI yang memprediksi emosi sebelum ia pergi dari Silicon Valley. Ia tak pernah bilang pasar rasional—he showed me bagaimana duka terlihat saat harganya nyata. Lonjakan 25,3% AST? Anomali statistik—atau jeritan kekeheningan? Tak ada yang bicara tentangnya di Twitter.
Kau Juga Ada Di Sana
Kau pun merasakan ini—that night—ketika portofoliomu gemetar dan kau juga tak bergerak.
Kita butuh lebih banyak grafik. Kita butuh pikiran yang lebih tenang. Kita butuh ingatan: harga tak menggerakkan orang— orang yang menggerakkan harga.

